Pertumbuhan Distro di Bandung Lebih Dari 100 Persen


Nilai Ekspor Produk Distro Rp 35 Juta per Bulan

Bandung, Kompas – Pertumbuhan jumlah distribution outlet atau distro di Kota Bandung dalam empat tahun terakhir mencapai lebih dari 100 persen. Kondisi perekonomian yang melemah belakangan ini tidak membuat perkembangan distro tersendat. Bahkan jumlahnya semakin banyak.

Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Fiki Chikara Satari mengemukakan hal itu di Bandung, Selasa (5/12). Tahun 2002, jumlah distro sekitar 200 unit, dan saat ini sudah lebih dari 400 unit.

Perkembangan distro dirasakan mulai pesat sejak tahun 1997. Pada saat itu, terdapat sekitar enam distro di Kota Bandung, antara lain 347/eat, Airplane, dan Ouval Research.

Hingga tiga tahun sesudah itu, perkembangannya lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 40 distro. Sayangnya, keunggulan kreativitas distro justru banyak disalahgunakan produsen baju tidak resmi.

Desain produknya sering ditemukan pedagang kaki lima Kota Bandung dan pasar-pasar seperti Mangga Dua dan Tanah Abang di Jakarta.

“Akhirnya, kami ambil hikmah saja. Kalau dibajak, berarti produk kami sangat diminati. Jadi, hak cipta sebenarnya sangat penting,” katanya. Di antara distro-distro itu, baru sekitar 10 persen atau 40 distro yang sudah memiliki hak cipta.

Sebuah distro dapat memproduksi 5.000-10.000 kaus setiap bulan. Sekitar 5 persen dari kaus yang diproduksi distro itu dikirim ke luar negeri dengan nilai Rp 25 juta-Rp 35 juta per bulan.

Namun, sistem penjualannya masih diantar langsung, tidak melalui mekanisme ekspor. Tujuan ekspor produk distro antara lain Singapura, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Brunei Darussalam, Amerika Serikat, dan Hongaria.

Selain di Bandung, distro juga terdapat di daerah lain seperti Makassar, Denpasar, dan Yogyakarta. Distro merupakan istilah umum yang dikenal masyarakat.

Sebenarnya terdapat dua macam usaha tersebut, yaitu distro dan clothing. Distro merupakan toko yang menjual produk mode bermerek independen. Adapun cloth-ing adalah usaha yang hanya mengeluarkan produk-produk bermerek tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Agus Gustiar mengatakan, bisnis distro memiliki prospek bagus. Kreativitas dan inovasi pelaku distro merupakan nilai tambah dalam pandangan anak muda yang menjadi pasar utamanya.

Untuk mencegah penyalahgunaan desain produk distro, Disperindag Jabar akan memfasilitasi 100 industri kecil menengah, termasuk pelaku distro, untuk mendapatkan hak cipta. Langkah itu akan didukung Departemen Perindustrian.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Daerah Kota Bandung Deden Hidayat mengatakan, distro memiliki peran dalam pariwisata di Bandung, selain hotel, mal, dan restoran. (bay)

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: